30 Jan 2013

Seni Rupa Kontemporer


“ADA APA DENGAN SENI LUKIS DI PADANGPANJANG”
Oleh : Ziyat Iswandi

Tulisan ini saya awali dengan pertanyaan. Mengapa harus dengan pertanyaan? Karena proses penalaran hanya akan mungkin ada, bila masih ada pertanyaan. Jika pertanyaan sudah tidak lagi ada, maka proses penalaran sudah berhenti atau mati. Selama pertanyaan masih ada, maka proses penalaran akan terus hidup dan berkembang. Begitulah cara manusia mengenal diri, alam dan Penciptanya. Saya rasa para filsuf juga akan mengatakan demikian. Pertanyaan besar yang ada dalam pikiran saya adalah: “ada apa dengan seni lukis di Padangpanjang...?
“Ada apa dengan seni lukis di Padangpanjang...?”, merupakan pertanyaan yang sederhana. Namun, pertanyaan sederhana ini rasanya cukup baik untuk memulai pembicaraan kita tentang perkembangan salah satu bentuk karya seni murni selain seni patung dan grafis, yaitu seni lukis. Secara implisit (tersurat), pertanyaan yang sederhana ini ternyata menimbulkan banyak pertanyaan lain, menggambarkan berbagai persoalan dan membutuhkan jawaban yang rumit seputar perkembangan seni lukis, khususnya di Padangpanjang. Pertanyaan-pertanyaan itu diantaranya seperti: mengapa seni lukis tidak begitu berkembang di Padangpanjang? Apakah masyarakat Padangpanjang tidak tahu tentang seni lukis? Apakah tak begitu menarik atau mempesona, seperti halnya dengan cabang seni yang selama ini mereka kenal, seperti karawitan, tari, atau musik?
Setiap manusia yang lahir sudah memiliki kecenderungan terhadap seni, namun penerapannya berbeda-beda pada setiap manusia. Bakat seni merupakan bawaan lahir setiap manusia. Artinya, setiap manusia memiliki bakat seni. Kecenderungan kepada cabang seni tertentu jelas akan berbeda pada setiap orang. Ada yang dianugerahkan bakat seni rupa, musik, tari, sastra, dan lain-lain. Namun, kadar atau porsinya pada setiap orang akan berbeda-beda pula. Begitu juga dengan cita rasa keindahan (estetika), secara umum sudah terdapat pada diri masing-masing setiap manusia, seiring dengan anugerah bakat yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Merea dapat membedakan pemandangan yang indah dengan yang tidak indah. Mereka dapat membedakan warna rumah yang bagus dan yang tidak. Mereka mampu memilih pakian yang indah untuk dirinya. Estetika dalam hal ini sudah diaplikasikan oleh masyarakat. Mereka mungkin tidak tahu apa itu estetika, namun secara tidak sadar mereka sudah mengaplikasikannya.
Mungkinkah keindahan yang mereka pahami, tidak mereka temukan pada seni lukis di sini (ISI Padangpanjang)? Sehingga lukisan yang diciptakan mahasiswa ISI Padangpanjang sulit sekali diterima oleh masyarakat. Terlalu jauhkah jurang apresiasi masyarakat dengan pemahaman seniman? Atau karya yang diciptakan kurang berkualitas? Jika dilihat dari hasil karya-karya mahasiswa seni lukis ISI ( Institute Seni Indonesia) Padangpanjang, sepertinya tidak begitu kalah hebatnya dengan karya-karya yang hadir di luar Padangpanjang. Hanya saja secara ide dan pengemasan yang mungkin sedikit berbeda.
Bila dibandingkan antara seni lukis dengan karawitan dan tari, perbedaan apresiasi masyarakat Padangpanjang terhadap karawitan dan tari kelihatan menonjol sekali. Karawitan dan tari nampak hidup dan berkembang dalam masyarakat Padangpanjang. Hal ini terlihat pada hajatan, pesta perkawinan, atau malam bagurau yang selalu ada. Jika dilihat proses berdirinya masing-masing jurusan di ISI Padangpanjang, tidak dapat kita pungkiri bahwa karawitan, tari dan musik sudah ada sejak lama, yaitu semenjak ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) ada. Sedangkan seni lukis ( seni murni ) baru 6 tahun belakangan ini berdiri. Namun hal ini menurut saya bukanlah hal yang signifikan, jika dijadikan sebagai alasan, mengapa seni lukis tidak diapresiasi oleh masyarakat Padangpanjang.
Menurut pemikiran saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan seni lukis tidak begitu berkembang di Padangpanjang. Masalah tersebut antara lain:
A.   Factor ekonomi.
Kehidupan masyarakat Padangpanjang yang sebagian besar petani dan pedagang, tentu ekonomi lebih diutamakan, sedangkan apresiasi terhadap seni belakangan. Sebagaimana kita ketahui bahwa kebutuhan hidup lebih diutamakan oleh setiap orang. Sedangkan kebutuhan untuk hiburan atau seni tak menjadi penting, sebelum kebutuhan pokok terpenuhi, maka urutan kebutuhan seni  oleh masyarakat berada pada urutan paling bawah.

B.   Berdirinya Jurusan Seni Murni masih tergolong baru. 
Seni murni ( lukis, patung, grafis ) di ISI Padangpanjang terbentuk tahun 2006. Sebelum adanya seni murni, karawitan, tari, musik terlebih dahulu namanya dikenal oleh masyarakat, bahkan hingga sampai sekarang sudah berdirinya seni murni ketiga jurusan tersebut tak lepas dari perhatian masyarakat. Begitu sulit dan susahnya masyarakat memahami apa itu seni murni?
C.   Kurangnya kegiatan apresiasi.
Kegiatan apresiasi seni yang begitu minim diselenggarakan juga memberi dampak terhadap perkembangan seni lukis di padangpanjang. Kegiatan apresiasi seni yang begitu minim dan sesekali dilakukan juga tidak melibatkan masyarakat. Sebuah kegiatan apresiasi seni atau pameran jika tidak ada keterlibatan masyarakat di dalamnya, membuat kegiatan apresiasi atau pameran seni itu terasa dingin. Serta kurangnya masyarakat mendapatkan infomasi terhadap pameran seni rupa.
Dari beberapa factor penyebab kurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni membuat tingkatan seni lukis berada paling bawah dalam kehidupan masyarakat Padangpanjang. Meski urutan seni lukis berada paling bawah bagi masyarakat, tidak berarti mereka tidak mengenal seni lukis ( seni murni ), mungkin masyarakat awam kebinggungan memahami karya-karya lukis mahasiswa, sebab mereka hanya melihat visualnya saja dan tak memahami maksud dan isi dari lukisan. Lain halnya dengan pertunjukan, karawitan, tari, musik, dan teater. Meskipun tak memahami maksud dan tujuan dari tampilan karya, mereka bisa tertawa gembira melihat suatu pertunjukan, itu memang hanya untuk hiburan penghilang lelah sehabis bekerja di ladang atau pulang dari berdagang.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar